Miskin dan Lumpuh, Wayan Nentra Belum Tersentuh Bantuan

0
836

KARANGASEM, Pos Bali – Wayan Nentra tidak pernah membayangkan kalau hidupnya akan berakhir hanya bisa duduk di atas ranjang. Pria asal Banjar Bangle, Kampung Tuba, Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Karangasem tersebut sudah 9 tahun menderita kelumpuhan yang membuatnya tak bisa kemana-mana.

Selain lumpuh, lelaki yang baru berusia 28 tahun tersebut juga tergolong orang yang kurang mampu dilihat dari rumahnya yang beralas tanah, berdiding bedeg, dan beratap ilalang.

Namun miris, Nentra ternyata tidak pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah. “Saya belum pernah dapat bantuan dari pemerintah” Ujar Nentra saat ditemui di gubuknya di Banjar Bangle, Minggu (15/2) kemarin.

Kondisi Wayan Nentra sungguh memprihatinkan. Kakinya yang sudah lumpuh 9 tahun lalu karena terjatuh dari pohon kelapa saat dirinya merantau di NTB (Nusa Tenggara Barat) itu sudah mati rasa.

Ia tidak bisa menggerakkan dan merasakan kakinya kendati dibakar sekalipun. “Kaki saya sudah mati rasa, itu terluka karena kemarin terbakar oleh api rokok milik bapak saya” Ujar Nentra sambil menunjukkan kakinya yang borok mengelupas bekas luka bakar.

Nentra menuturkan ketika dari saat jatuh sampai sekarang dirinya mengaku tidak pernah berobat ke dokter/rumah Sakit karena tidak punya uang. “Saya tidak ke dokter atau ke Rumah Sakit karena saya tidak punya (uang), takut nanti di Rumah Sakit bayarnya mahal” ungkapnya.

Selain itu, memang tempat tinggal dari Wayan Nentra sangat jauh dari puskesmas pembantu yang ada di Bunutan.  Untuk mencapai rumahnya yang terletak di Bawah Bukit Balang itu perlu menempuh jarak 5 Km dari Bunutan. Jalan yang rusak dan menanjak menjadi tantangan tersendiri untuk bisa sampai ke gubuknya itu.

Pasca peristiwa jatuh dari pohon kelapa itu, nasib buruk pun terus melengkapi kehidupan Wayan Nentra. Karena kondisinya yang lumpuh, istrinya pun meninggalkannya.

Istrinya minta cerai dan kembali ke NTB (Nusa Tenggara Barat). “Setelah 6 bulan saya lumpuh, istri saya minta cerai dan kembali ke NTB” ujarnya. Padahal saat itu putra semata wayangnya, I Wayan Murdana baru berumur 1 tahun.

Karena kondisi ekonominya yang miskin dan tidak punya penghasilan membuat keluarga kecilnya hancur pasca peristiwa itu. Putranya yaitu Wayan Murdana akhirnya juga meninggal di usia 5 Tahun karena sakit panas tinggi sehingga disertai step. “Anak saya juga meninggal karena step, saat itu anak saya sakit tapi tidak berobat” tuturnya sedih.

Selama 9 tahun terkahir praktis Nentra diurus oleh kedua orang tuanya yaitu Wayan Nenda (60) dan Niluh Ayu (60). Kedua orang tuanya yang telah uzur itu secara tulus membantunya mulai dari memberikan makan, memandikan, membersihakan kencing dan BAB, dan semua keperluannya. Sesekali Nendra juga dibantu oleh 2 saudaranya yang tinggal satu pekarangan dengannya. Maklum keluarga itu tinggal di lereng bukit sehingga sulit mencari tanah lapang untuk dijadikan tempat membangun rumah.

Kendati kakinya lumpuh namun tangannya masih telaten dalam bekerja sehingga sambil duduk dirinya biasa membuat ulatan ingka dari bambu. Hasil ulatan itu diberikan kepada orang tuanya untuk tambahan beli beras dan kebutuhan sehari-hari. “Buat ini (ulatan) supaya ada dibelikan beras” tuturnya. 017

CEVAP VER

Please enter your comment!
Please enter your name here